Minggu, 27 Maret 2011

Singapura Kuasai Investasi Asing di Indonesia Semester I 2010



Kendati belum sepenuhnya pulih dari krisis keuangan, pemodal Amerika Serikat merupakan investor ketiga terbesar di Tanah Air dengan nilai investasi mencapai US$0,3 miliar pada 33 proyek.

Namun, hingga kuartal II-2010, pemodal Singapura tercatat sebagai investor terbesar dengan nilai investasi US$ 1,6 miliar. Uang ini ditanamkan di 156 proyek.

Untuk diketahui, realisasi investasi berupa penanaman modal asing (PMA) hingga semester I-2010 tercatat Rp71 triliun atau melonjak 46,1 persen dibanding periode sama 2009 sebesar Rp48,6 triliun.

"Dalam kondisi krisis, memang tidak bisa terlalu berharap arus investasi dari negara maju," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan, pada konferensi pers di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu 28 Juli 2010.

Data BKPM menunjukkan, selain AS dan Singapura, pemodal asing yang banyak membenamkan investasinya di Indonesia adalah Hong Kong senilai US$0,8 miliar pada 27 proyek, Jepang US$0,2 miliar (98 proyek), Belanda US$0,2 miliar untuk 43 proyek, serta negara-negara lainnya US$0,8 miliar di 792 proyek.

Gita mengatakan, kendati AS masih menempati posisi ketiga PMA terbesar di Indonesia, hal itu membuktikan adanya kepercayaan dari pemilik dana yang berasal negeri Paman Sam tersebut.

"Ini akan bergulir secara positif dan itu harus ditopang dengan infrastruktur. Karena jika tidak bisa, akan menyebabkan terhambatnya investasi," katanya.

Terkait dengan pemodal Singapura yang menjadi investor dengan realisasi investasi terbesar, Gita mengatakan hal itu karena adanya kejelasan investasi dan dukungan pemerintah dalam pengembangan wilayah Bintan, Batam, dan Karimun (BBK).

Kejelasan tersebut menyebabkan kepercayaan investor Singapura semakin meningkat dan akan terus berkesinambungan. Namun, BKPM mengingatkan pemerintah agar menjamin adanya pasokan energi dan listrik agar kelangsungan usaha di daerah itu bisa terus berkembang.


Sumber Referensi : VIVAnews.com

Kamis, 17 Maret 2011

Cukup satu gelas setelah bangun tidur, akan sangat bermanfaat untuk tubuh



Metrotvnews.com, Jakarta: Sudahkah Anda membiasakan minum air putih setelah bangun pagi? Ketahuilah, tak hanya bisa mempercantik kulit, mengonsumsi air putih secara teratur bermanfaat membersihkan tubuh dari racun. Minum air putih setelah bangun tidur bermanfaat bagi kesehatan. Menurut Samuel Oetoro, Spesialis Gizi Klinik dari Rumah Sakit Siloam, saat tidur tubuh mengeluarkan banyak air atau terjadi penguapan. “Tujuh puluh persen tubuh kita terdiri dari air.

Air dalam tubuh digunakan oleh organ tubuh yang tidak pernah berhenti bekerja saat tidur, termasuk otak, jantung dan ginjal. Maka setelah bangun tidur, dianjurkan minum air putih,” kata dr Samuel di Jakarta, Rabu (16/3).
Saat tidur metabolisme sel-sel terus berjalan dan air dalam tubuh membantu sel-sel bekerja. Sehingga, setelah 6-8 jam tidur, tubuh bisa mengalami defisit air, karena dalam proses metabolisme sel, akan ada air yang terbuang. Konsumsi air setelah bangun tidur di pagi hari untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Jika tidak mengonsumsi air setelah bangun tidur, tubuh juga bisa kekurangan mineral yang bisa mengganggu kesehatan. “Cukup satu gelas setelah bangun tidur, akan sangat bermanfaat untuk tubuh,” kata Samuel.

Tak hanya setelah bangun tidur, minum air putih juga disarankan sebelum tidur. Namun sebaiknya konsumsi air putih sebelum tidur ini tak berlebihan karena bisa membebani Anda karena memicu lebih sering pergi ke kamar kecil termasuk juga berefek buruk pada fungsi jantung dan ginjal.

Minggu, 13 Maret 2011

Lihatlah Karyawan sebagai Pelanggan Internal

Iseng-iseng baca berita di Kompas.com, saya menemukan artikel menarik tentang bagaimana menyikapi karyawan dalam suatu perusahaan.

“Papa.. kita sudah sampai belum?”. Pertanyaan ini selalu dipertanyakan oleh anak-anak kita saat sedang berada dalam suatu perjalanan panjang menuju tempat wisata di luar kota atau bahkan hanya menuju sebuah tempat perbelanjaan di Jakarta yang memakan waktu lama karena kemacetan yang ada. Pada awalnya, pertanyaan tersebut membuat bangga karena ternyata anak yang kita sayangi memiliki rasa antusias tinggi terhadap tempat baru yang akan dituju. Tetapi setelah pertanyaan tersebut muncul beberapa kali, hal ini akhirnya menjadi tambahan gangguan disamping kemacetan yang sedang kita alami.

Dalam dunia korporasi, acapkali praktisi Sumber Daya Manusia (SDM) juga mempertanyakan hal yang sama, “kita sudah sampai belum?”. Para praktisi SDM bekerja keras untuk membangun kualitas SDM dalam organisasi mereka tetapi merasa tidak pernah sampai pada tujuannya. Dalam pelatihan-pelatihan yang kami lakukan untuk para praktisi SDM selalu muncul kesan bahwa bagian SDM dalam perusahaan atau organisasi masih dianggap sebagai administrative expert daripada sebagai business partner. Banyak organisasi yang bahkan masih menyebut bagian SDM-nya sebagai bagian “kepegawaian” atau “personalia” dan belum berani menyebutnya sebagai “Sumber Daya Manusia”.

Sebenarnya, tujuan akhir dari fungsi SDM adalah sederhana, yaitu SDM harus memberikan nilai tambah (value proposition) kepada bisnis. Bila kita tanyakan kepada praktisi SDM, “Apa yang menjadi tantangan terbesar dalam dunia SDM?” Jawabannya akan banyak berkisar pada: membina hubungan dengan para manajer, manajemen talenta, recruitment, manajemen biaya SDM, penanganan permasalahan karyawan, dan sebagainya. Jawaban-jawaban ini menunjukkan bahwa dunia SDM masih banyak terlibat pada apa yang disebutkan oleh Dave Ulrich, seorang profesor dan pakar SDM dunia dari University of Michigan, sebagai administrative work.

Agar dapat lebih memberikan nilai tambah kepada bisnis, bagian SDM harus dapat berkontribusi terhadap keberhasilan bisnis melalui strategi SDM.

Praktisi SDM harus memahami faktor bisnis eksternal yang mempengaruhi kinerja organisasi. Hal ini diperlukan agar SDM dapat mengantisipasi kebutuhan industri dan organisasinya sehingga dapat memberikan respon yang cepat dan bermanfaat.

Jika selama ini fungsi SDM Anda berfokus ke dalam organisasi untuk meningkatkan produktivitas karyawan dan mendukung para manajer dalam mengimplementasikan strategi mereka, ini merupakan suatu kemajuan. Anda telah melihat karyawan dan manajer dalam organisasi sebagai pelanggan internal. Namun, selanjutnya, fungsi SDM juga harus selaras dengan stakeholder eksternal.

Kegiatan SDM harus mendekatkan pelanggan (pelanggan yang membeli jasa atau produk Anda) kepada perusahaan. Misalnya, ada sebuah perusahaan multinasional di Indonesia yang melibatkan pelanggan dalam penentuan kriteria kompetensi seorang account manager dan melibatkan pelanggan tersebut dengan melakukan assessment dalam bentuk proses seleksi. Bahkan sebuah perusahaan lainnya meminta pelanggan untuk memberikan training kepada karyawan internal organisasi.

Dengan ini, SDM akan dapat menempatkan posisinya setara dengan unit lainnya seperti bagian penjualan, pemasaran dan produksi dalam hal peningkatan intensitas hubungan juga kedekatan dengan pelanggan. Dengan adanya hubungan baik yang terbina maka diharapkan loyalitas pelanggan juga akan terbangun. Inilah peran strategis SDM sebagai business partner. Peran SDM akan terus berevolusi. Jika Anda telah menjalankan peran business partner, maka Anda telah hampir sampai.

(Suwardi Luis dan Raymond Hadisubrata. CEO dan Exec. Vice President, GML Performance Consulting)